Tugas Softskill pencemaran limbah plastik
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Nama plastik mewakili ribuan bahan
yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat
digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat
thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali
dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila
telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum
digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic. Seiring
dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Data BPS
tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia,
terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan
pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut
terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus
meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya, peningkatan
limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono (1998) komposisi sampah
atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari
total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan
satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah,
disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk,
tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat
berkarat, dan pada akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986).
Plastik juga merupakan bahan
anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berbahaya bagi
lingkungan. Limbah daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan secara
alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80
tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna. Oleh karena itu penggunaan bahan
plastik dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif bagi lingkungan
apabila digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu. Sedangkan di dalam
kehidupan sehari-hari, khususnya kita yang berada di Indonesia, penggunaan
bahan plastik bisa kita temukan di hampir seluruh aktivitas hidup kita. Padahal
apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih untuk hal ini yaitu dengan
menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di rumah. Dengan
demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik yang dapat
terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau bahkan lebih bagus lagi jika
kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle).
Akibat dari semakin bertambahnya
tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula
buangan/limbah yang dihasilkan. Limbah/buangan yang ditimbulkan dari aktivitas
dan konsumsi masyarakat sering disebut limbah domestik atau sampah. Limbah
tersebut menjadi permasalahan lingkungan karena kuantitas maupun tingkat
bahayanya mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Selain itu aktifitas
industri yang kian meningkat tidak terlepas dari isu lingkungan. Industri
selain menghasilkan produk juga menghasilkan limbah. Dan bila limbah industri
ini dibuang langsung ke lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran
lingkungan. Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi
baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai
sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak
dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.Jenis limbah pada
dasarnya memiliki dua bentuk yang umum yaitu; padat dan cair, dengan tiga
prinsip pengolahan dasar teknologi pengolahan limbah.
Limbah dihasilkan pada umumnya
akibat dari sebuah proses produksi yang keluar dalam bentuk % scrapt atau bahan
baku yang memang sudah bisa terpakai. Dalam sebuah hukum ekologi menyatakan
bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis. Artinya alam sendiri
mengeluarkan limbah akan tetapi limbah tersebut selalu dan akan dimanfaatkan
oleh makhluk yang lain. Prinsip ini dikenal dengan prinsip Ekosistem (ekologi
sistem) dimana makhluk hidup yang ada di dalam sebuah rantai pasok makanan akan
menerima limbah sebagai bahan baku yang baru.
1.2
Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah
bagaimana merumuskan masalah-masalah yang terdapat pada penulisan makalah
penelitian. Perumusan masalah makalah limbah plastik ini adalah darimana limbah plastik limbah berasal, apa dampak adanya limbah plastik,
apa manfaat imbah plastik, dan bagaimana mengolah limbah plastik
1.3
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan adalah hal-hal yang akan dicapai dalam
pembuatan makalah penelitian. dari penulisan makalah limbah
plastik ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk dapat mengetahui sumber-sumber limbah plastik
2.
Untuk dapat mengetahui dampak adanya limbah plastik
3.
Untuk mengetahui beberapa manfaat limbah plastik
4.
Untuk mengetahui beberapa cara pengolahan limbah plastik.
5.
Untuk mengenal bahaya kemasan plastik
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Sumber-sumber
Limbah Plastik
Beberapa sumber limbah plastik dapat
diketahui dari jenis sampah plastik itu sendiri, yang dapat diketahu seperti Acrytic
Pulpen, sen kendaraan, AS sen Tempat kosmetik, sikat gigi, Chip tali Springbed, Duragon Roda kaset, tempat pita
keset. Jenis HD pada limbah plastik mempunya
beberapa jenis diantaranya, HD ember Ember, Krat minuman,
gayung, ember cat, HD blowing Botol
sampo, botol oli, drum plastic, HD hitam Ember hitam, HD tikar Tikar plastic, HD butek Saringan ember, PVC selang Selang, PVC botol Botol Baygon,soklin, PVC blue band Blue band, PP kardus Kardus lembaran PP, PP ember cat Ember cat, PP tali Strapping band
2.2. Dampak Adanya Limbah Plastik
Dampak plastik terhadap lingkungan
merupakan akibat negatif yang harus ditanggung alam karena keberadaan sampah
plastik. Dampak ini ternyata sangat signifikan. Sebagaimana yang diketahui,
plastik yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi
barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500
juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun.
Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya,
diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang. Konsumsi
berlebih terhadap plastik pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar.
Karena bukan berasal dari senyawa biologis, plastik memiliki sifat sulit
terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100
hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Sampah
kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara.
Kantong plastik terbuat dari
penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Minyak, gas dan batu bara
mentah adalah sumber daya alam yang tak dapat diperbarui. Semakin banyak
penggunaan palstik berarti semakin cepat menghabiskan sumber daya alam
tersebut. Fakta tentang bahan pembuat plastik, (umumnya polimer
polivinil) terbuat dari polychlorinated biphenyl (PCB) yang mempunyai struktur
mirip DDT, sehingga kantong plastik sulit untuk diurai oleh tanah hingga
membutuhkan waktu antara 100 hingga 500 tahun. Keadaan plastik yang seperti ini
akan memberikan akibat antara lain:
1.
tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah;
2.
racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah
akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing;
3.
PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang
maupun tanaman, yang akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan;
4.
kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke
dalam tanah;
5.
menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi
sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu
meyuburkan tanah;
6.
kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang,
dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun;
7.
hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik;
8.
hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing
laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati
karena tidak dapat mencernanya;
9.
ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam
tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan
lainnya;
10. pembuangan sampah plastik
sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan pendangkalan sungai dan
penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir.
Untuk menanggulangi sampah plastik
beberapa pihak mencoba untuk membakarnya. Tetapi proses pembakaran yang kurang
sempurna dan tidak mengurai partikel-partikel plastik dengan sempurna maka akan
menjadi dioksin di udara. Bila manusia menghirup dioksin ini manusia akan
rentan terhadap berbagai penyakit di antaranya kanker, gangguan sistem syaraf,
hepatitis, pembengkakan hati, dan gejala depresi.
2.3. Pemanfaatan Limbah Plastik
Limbah plastik yang umum ditemukan
di tempat pembuangan sampah antara lain botol minuman dan deterjen yang
termasuk jenis PET, dan kantong plastik. Jumlah kantong plastik di TPA terus
menumpuk karena tidak terlalu diminati karena memiliki nilai jual yang rendah.
Kantong-kantong plastik ini tidak mudah terurai sehingga hanya akan terus
menumpuk dan bertambah di TPA sampai 1000 tahun ke depan. Oleh karena itu
diperlukannya suatu solusi tepat yang bukan hanya mengurangi penggunaan kantong
plastik karena selama masih diijinkan untuk digunakan maka kantong plastik itu
akan terus ada dan bertambah. Limbah kantong plastik yang menumpuk di TPA dapat
menjadi peluang sumber daya jika diolah dengan benar. Pengembangan
proses pengolahan kantong plastik dilakukan melalui eksperimentasi untuk
membuka peluang pemanfaatan kantong plastik dengan penerapan teknologi
sederhana, murah, dan nyata. Eksperimen juga mencakup eksplorasi sifat dan
karakteristik kantong plastik yang unik untuk diaplikasikan menjadi produk
bernilai tinggi sehingga dapat menaikkan nilai dari limbah kantong plastik.
Pemanfaatan limbah plastik merupakan
upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu
menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor.
Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse)
maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam
skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan
yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot
atau ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah
sering digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali terjadi di
kota-kota besar.
2.3.1. Pemanfaatan limbah Sebagai Bahan Kreasi
Gelas plastik merupakan tempat air
minum yang terbuat dari bahan multiguna yang banyak dipakai dalam kehidupan
sehari–hari. Plastik juga sudah banyak diwujudkan dalam bentuk busana, walaupun
dalam presentasi kecil, contohnya seperti mantel, jas hujan, tas, aksesoris dan
lain – lain. Hiasan dan korsase (dari plastik) akan memperindah busana kreasi
baru dari bahan gelas plastik.
Pembuatan busana kreasi baru dari
limbah gelas plastik seharusnya bernilai ekonomis tinggi. Akan tetapi, proses
pembuatnnya yang memerlukan waktu relatif lama terutama dalam mengecat gelas
plastik sehingga diperlukan ketelitian dan kesabaran menjadi salah satu
hambatan terwujudnya hal tersebut. Selain pemasangan hiasan gelas plastik.pada
busana, kesulitan yang tampak terdapat pula pada pemeliharaan busana kreasi
baru ini, selain ketelitian dengan penyimpananya diruang yang longgar/tidak
sempit, menghindari udara lembab dan panas, serta secara periodik dikeluarkan
guna diangin-anginkan menjadi kaharusan untuk pemeliharaan busana. Selain itu,
bahan baku limbah yang digunakan yang pada hakikatnya merupakan sampah yang
tidak dipakai lagi mengharuskan biaya pengolahannya tidak termasuk dalam
kisaran yang kecil.
2.3.2. Limbah plastik sebagai bahan ornamen
bangunan
Di Indonesia, plastik daur ulang
sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula dengan kualitas yang
lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan konstruksi masih
sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980 an, di Inggris dan Italia plastik daur
ulang telah digunakan untuk membuat tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang
kayu atau besi. Di Swedia plastik daur ulang dimanfaatkan sebagai bata plastik
untuk pembuatan bangunan bertingkat, karena ringan serta lebih kuat
dibandingkan bata yang umum dipakai (YBP, 1986).
Pemanfaatan plastik daur ulang dalam
bidang komposit kayu di Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua
strategi dalam pembuatan komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama
plastik dijadikan sebagai binder sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua
kayu dijadikan bahan pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya. Penelitian
mengenai pemanfaatan plastik polipropilena daur ulang sebagai substitusi
perekat termoset dalam pembuatan papan partikel telah dilakukan oleh Febrianto
dkk (2001). Produk papan partikel yang dihasilkan memiliki stabilitas dimensi
dan kekuatan mekanis yang tinggi dibandingkan dengan papan partikel
konvensional. Penelitian plastik daur ulang sebagai matriks komposit kayu
plastik dilakukan Setyawati (2003) dan Sulaeman (2003) dengan menggunakan
plastik polipropilena daur ulang. Dalam pembuatan komposit kayu plastik daur
ulang, beberapa polimer termoplastik dapat digunakan sebagai matriks, tetapi
dibatasi oleh rendahnya temperatur permulaan dan pemanasan dekomposisi kayu
(lebih kurang 200°C).
2.4. Pengolahan Limbah Plastik
Plastik merupakan material yang
sangat akrab dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi plastik membuat
aktivitas produksi plastik terus meningkat. Hampir setiap produk menggunakan
plastik sebagai kemasan atau bahan dasar. Material plastik banyak digunakan
karena memiliki kelebihan dalam sifatnya yang ringan, transparan, tahan air,
serta harganya relatif murah dan terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.
Segala keunggulan ini membuat
plastik digemari dan banyak digunakan dalam hampir setiap aspek kehidupan
manusia. Akibatnya jumlah produk plastik yang akan menjadi sampah pun terus
bertambah. Limbah plastik yang umum ditemukan di tempat pembuangan sampah
antara lain botol minuman dan deterjen yang termasuk jenis PET, dan kantong
plastik. Jumlah kantong plastik di TPA terus menumpuk karena tidak terlalu
diminati karena memiliki nilai jual yang rendah. Kantong-kantong plastik ini
tidak mudah terurai sehingga hanya akan terus menumpuk dan bertambah di TPA
sampai 1000 tahun ke depan.
Oleh karena itu diperlukannya suatu
solusi tepat yang bukan hanya mengurangi penggunaan kantong plastik karena
selama masih diijinkan untuk digunakan maka kantong plastik itu akan terus ada
dan bertambah. Limbah kantong plastik yang menumpuk di TPA dapat menjadi
peluang dan jika diolah dengan benar dapat menjadi sumber daya. Pengembangan
proses pengolahan kantong plastik dilakukan melaui eksperimentasi untuk membuka
peluang pemanfaatan kantong plastik dengan penerapan teknologi sederhana,
murah, dan nyata. Eksperimen juga mencakup eksplorasi sifat dan karakteristik
kantong plastik yang unik untuk diaplikasikan menjadi produk bernilai tinggi
sehingga dapat menaikkan nilai dari limbah kantong plastik. Beberapa
cara pengolahan limbah plastik secara umum, yaitu sebagai berikut :
2.4.1. Daur Ulang
Daur ulang merupakan proses untuk
menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya
sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi
penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi
polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan
proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan
sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemrosesan, pendistribusian
dan pembuatan produk / material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen
sampah modern dan bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse,
Reduce, and Recycle). Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya
dilakukan oleh industri.”Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu
sampah plastic dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus
homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk
mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui
tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan
zat-zat seperti besi dan sebagainya.
2.4.2. Incinerasi
Cara lain untuk mengatasi limbah
plastik adalah dengan membakarnya pada suhu tinggi (incinerasi). Limbah plastik
mempunyai nilai kalor yang tinggi, sehingga dapat digunkana sebagai sumber
tenaga untuk pembangkit listrik. Beberapa pembangkit listrik menggunakan batu
bara yang dicampur dengan beberapa persen ban bekas. Akan tetapi, pembakaran sebenarnya
menimbulkan masalah baru, yaitu pencemaran udara. Pembakaran plastik seperti
PVC menghasilkan gas HCl yang bersifat korosif. Pembakaran ban bekas
menghasilkan asap hitam yang sangat pekat dan gas-gas yang bersifat korosif.
Gas-gas korosif ini membuat incinerator cepat terkorosi. Polusi yang paling
serius adalah dibebaskannya gas dioksin yang sangat beracun pada pembakaran
senyawa yang mengandung klorin seperti PVC. Untuk itu, pembakaran harus
dilakukan dengan pengontrolan yang baik untuk mengurangi polusi udara.
2.4.3. Plastik Biodegradable
Sekitar separuh dari penggunaan
plastik adalah untuk kemasan. Oleh karena itu, sangat baik jika dapat dibuat
plastik yang bio- atau fotodegradable. Hal itu telah diupayakan dan telah
dipasarkan. Kebanyakan plastik biodegradable berbahan dasar zat tepung. Tetapi,
plastik jenis ini lebih mahal dan kelihatannya masyarakat enggan untuk membayar
lebih.
2.5. Mengenal Bahaya Kemasan Plastik dan Kresek
Kantung plastik kresek dan kemasan
dari plastik lainnya merupakan alat pengemas yang paling banyak dipergunakan
karena murah, praktis dan mudah didapat. Tetapi sayangnya kemasan plastik
dan kantung plastik kresek ternyata tidak selalu aman, bahkan berbahaya bagi
kesehatan. Beberapa jenis kemasan plastik berpotensi menimbulkan gangguan
kesehatan termasuk diantaranya kantung plastik “kresek” berwarna serta kemasan
plastik berbahan dasar polistiren dan polivinil klorida (PVC). Juga berbagai
kemasan dari plastik lainnya semisal botol plastik bekas minuman dan lainnya
yang kita perlu mengenalnya. Meskipun selama ini belum pernah ada pengaduan atau keluhan
mengenai gangguan kesehatan akibat penggunaan kantung “kresek” sebagai wadah
makanan, namun kita perlu berhati-hati. Kalau mau mewadahi makanan siap santap
dengan plastik kresek sebaiknya dilapisi dulu dengan bahan yang aman seperti
daun atau kertas. Selain plastik kresek, kemasan plastik berbahan polivinil
klorida (PVC) dan kemasan makanan “styrofoam” juga berisiko melepaskan bahan
kimia yang bisa membahayakan kesehatan. Monomer styrene yang tidak ikut
bereaksi dapat terlepas bila bereaksi dengan makanan yang berminyak/berlemak
atau mengandung alkohol dalam keadaan panas. Meskipun bila residunya kecil
tidak berbahaya. Secara umum, kemasan plastik diberikan label-label sebagai
berikut: PETE atau PET (polyethylene terephthalate) dengan berlabel
angka 01 dalam segitiga biasa dipakai untuk botol plastik yang
jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral. Botol-botol dengan
bahan ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan dipakai untuk
menyimpan air hangat apalagi panas.
HDPE (high density polyethylene)
berlabel angka 02 dalam segitiga biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna
putih susu. Direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.
V atau PVC (polyvinyl chloride)
berlabel angka 03 dalam segitiga adalah plastik yang paling sulit di daur
ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan
botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik
pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC
berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
LDPE (low density polyethylene)
berlabel angka 04 dalam segitiga biasa dipakai untuk tempat makanan dan
botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan berkode ini dapat di daur ulang
dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang
ini bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat
makanan.
PP (polypropylene) berlabel angka 05
dalam segitiga adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang
berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol
minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik botol ini transparan
yang tidak jernih atau berawan.
PS (polystyrene) berlabel angka 06
dalam segitiga biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum
sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam
makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak
dan sistem syaraf. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di
Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk
negara China.
Other (biasanya polycarbonate)
berlabel angka 07 dalam segitiga bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman
seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya
yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem
hormon.
Kemasan plastik yang paling banyak
dan paling aman digunakan adalah yang terbuat dari polyethylene (PE) dan
polyprophylene (PP) yang dilabeli terkadang juga dilabeli dengan gambar gelas
dan garpu atau ada tulisan `untuk makanan` atau `for food use`.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan yang tertulis pada makalah ini, kami
dapat menarik beberapa simpulan, yaitu sebagai berikut:
1.
Sumber-sumber limbah plastik dapat dilihat dari jenis
limbah plastik itu sendiri. Sumber-sumber limbah plastik diantaranya Acrytic Pulpen, sen kendaraan, AS sen Tempat kosmetik, sikat gigi, Chip tali Springbed, Duragon Roda kaset, tempat pita
keset. HD ember Ember, Krat minuman,
gayung, ember cat, HD blowing Botol
sampo, botol oli, drum plastic, HD hitam Ember hitam, HD tikar Tikar plastic, HD butek Saringan ember, PVC selang Selang, PVC botol Botol Baygon,soklin, PVC blue band Blue band, PP kardus Kardus lembaran PP, PP ember cat Ember cat, PP tali Strapping band.
2.
Dampak dari limbah
plasti diantaranya adalah
a.
tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah;
b.
racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah
akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing;
c.
PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang
maupun tanaman, yang akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan;
d.
kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke
dalam tanah;
e.
menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi
sirkulasi udara di dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu
meyuburkan tanah;
f.
kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang,
dan ringan akan mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun;
g.
hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik;
h.
hewan-hewan laut seperti lumba-lumba, penyu laut, dan anjing
laut menganggap kantong-kantong plastik tersebut makanan dan akhirnya mati
karena tidak dapat mencernanya;
i.
ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam
tubuhnya tetap tidak akan hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan
lainnya;
j.
pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan
mengakibatkan pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang
menyebabkan banjir.
3. Pemanfaatan
limbah plastik daianatanya dapat diterapkan menjadi sebagai bahan kreasi dan
sebagai bahan ornamen bangunan.
4. Penegelolaan
limbah plastik dianatanya adalah daur ulang, incerenasi dan plastik Biodegradable.
5.
Komentar
Posting Komentar